Arsip untuk Mei, 2006

h1

Di Sebagian Sisa Magrib

Mei 9, 2006

Di sebagian sisa magrib,

Kucoba membacamu dengan hati:

Gelisahmu adalah galau kaum muda yang belum dihinggapi usia
Dan karenanya, rasa di jiwamu pun seakan meledak-ledak, memaksa setiap jengkal pintu dan jendela2nya berderit membuka diri paksa!
Sedikitpun engkau masih hanyut dalam egois kecintaan yang engkau gemborkan; lewat puisi, lewat opini atau bahkan dengan symbol-simbol busanamu yang norak…
Sketsa pikiran yang coba kau hadirkan justru semakin menjelaskan kepura-puraanmu enggan menikmati hidup dengan cara yang sangat sederhana, atau engkau tidak punya cukup energi untuk itu?

Pada sisa cahya lembayung di tepian senja
Kucoba mamahamimu dengan kearifan yang tersisa:

Mungkin kau belum merasa bahwa juga ada benak2 kegelisahan yang menggayut pada setiap sudut hariku dan hari banyak sahabat yang lain; kegelisahan yang dihiasi oleh hanya sedikit keromantisan namun membutuhkan tidak sedikit keberanian dan kepercayaan atas komitmen perjuangan
Barangkali juga kau merasa belum saatnya membuka diri dan mencoba mendamaikan hatimu lewat sekulum senyum tulus keperempuanan yang kau pampang di teras-teras kelelakian saat malam perlahan hadir
Mungkin juga benar menganggapmu bagai sebongkah batu yang slalu berharap dapat diterima bumi tanpa pongah, sementara setiap waktu bulir-bulir hujan jatuh menimpamu dari tingginya langit yang perlahan namun pasti kan menguraikan wujudmu. Mungkin juga hujan itu bukan air yang mengalir, tetapi hanya sebagian kristal apati dari dalam jiwamu yang merangkak ke perut bumi dan berubah menjadi uap gelisah terus menjadi hujan dalam benakmu; atau juga mungkin benar membayangkan hujan batu telah menimpa ke-batuan-mu?

Di sisa lembaran yang tergesa dikejar bayang-bayang waktu
Kuberusaha menulismu dengan harapan:

Bukan Gie, Khairil Anwar atau Marah Rusli – tokoh dalam iklan Kompas 2005 – yang berhak mengitari setiap jejak-jejak kreativitasmu dan membuatmu terjerembab dalam dinginnya kesendirian benakmu yang memenjarakan bukan saja pikiran2mu, tetapi juga membekukan perasaan cintamu pada setiap ruang-ruang manusiawi yang kau singgahi, bukan pula mereka yang setiap saat membawa ceramah-ceramah ilmiah di acara pergerakan kemahasiswaan atau mereka yang dengan sangat oportunisnya menunggangi momentum untuk sekadar menjadi tokoh-tokoh mahasiswa karbitan!
Engkau adalah engkau; dirimu sendiri yang terlahir sebagai benih cinta orang tuamu, dan karenanya dengan cinta itu pula engkau mesti bangkit dari keterpurukan asamu untuk kembali menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.
Engkau tidak sendiri berhadapan dengan jeruji penjara pemikiran yang absurd, di belakang dan di sekitarmu bergelimpangan kaki-kaki manusia dengan setumpuk harapan merdeka dalam benaknya, meskipun tidak jarang dari mereka bernasib naas; hanya berupa jasad yang melenggang di atas pentas pergerakan, tanpa nurani dan ekspresi kecintaan atas pembebasan; pembebasanku, juga pembebasanmu!
Yang engkau, mereka dan aku butuhkan hanyalah sedikit keterbukaan, kejujuran dan kepolosan yang fitrawi, satu sama lain, tidak lebih.. Dalam kesendirian kita, semoga sedikit derit pintu hati bisa menyisakan sepetak ruang di jiwa untuk berdiskusi dan saling bertukar harapan; menafikkan mereka yang belum mengerti tentang kita apa adanya, menghapus nisan-nisan pemikiran mereka yang telah usang di makan interupsi zaman, dan menyisakan lagi sedikit ruang (tapi jangan terlampau luas), bagi mereka yang masih polos dan belum saatnya mengerti tentang kita ada apanya…
Engkau sudah terlalu tua untuk menghabiskan sisa-sisa hidupmu hanya dengan berkeluh-kesah, mendesahkan keperihan akan pengkhianatan dan kesendirianmu, serta menyanyikan lagu pasrah kekaburan logika kewanitaanmu. Dan aku, meskipun juga sudah terpaut jauh darimu, masih punya sedikit asa untuk mengajakmu beranjak dari dudukanmu yang menyiksa, mencari dunia baru untuk kita tapaki sama-sama; bukan dalam kesendirian, tetapi bersama angan-angan yang kemarin telah membesarkan jiwa kita. Kelak, kita ‘kan bersorak tentang siapa yang menjadi jawara dalam dialektika keremajaan pemikiran kita sekarang, dan memberinya hadiah, lantas mengajaknya menjadi warga baru dalam dunia kita yang memerdekakan; membesarkannya dan memugarnya menjadi penghias nisan-nisan kecintaan kita akan toleransi dan kesalingpemahamanan; bukan dalam apologi atau retorika oportunis, tetapi dalam nuansa manusiwai yang fitrah.
Bahwa engkau perempuan dan aku laki-laki, itu sungguh jelas, tetapi jangan pula sangsikan jika di dalam dirimu akan kujumpai diriku dan mengajaknya berbincang-bincang tentang keperempuanan, juga engkau yang bisa menemukan sejati keperempuananmu dalam kelaki-lakianku lalu membawanya pergi untuk membongkar konstruksi peradaban tentang keperkasaan dan imperialisme kaum laki-laki. Kita adalah satu meskipun tidak setiap saat menyatu, walaupun juga tidak terpaut jarak diantaranya. Itulah relasi yang memerdekakan; seperti persis yang engkau gelisahkan saat ini dan yang telah merubahmu menjadi batu atau seperti sebongkah es batu; mungkin karena engkau merasa tidak bisa atau belum mampu mendiskusikannya dengan yang lain dan meyakinkan mereka akan kebenaran dan kesungguhan harapan-harapanmu.
Tetapi keyakinanmu akan kebenaran harapan2mu kini membuatku percaya bahwa di balik semuanya bersembunyi sembulan-sembulan cahya cinta yang meronakan setiap lekuk tubuh dan mengusapnya dengan lembut, memberinya keteduhan dan segenap kepercayaan akan wujud setiap jejak harapan. Karena semua itu pula, hingga ku berani merangkaikan kata dan menyusunnya menjadi setulus kalimat pengharapan tuk mengajakmu merdeka bersama, menafikkan mereka yang belum mengerti tentang kita apa adanya, menghapus nisan-nisan pemikiran mereka yang telah usang termakan interupsi zaman, dan menyisakan lagi sedikit ruang (tetapi jangan sampai terlampau luas), bagi mereka yang masih polos dan belum saatnya mengerti tentang kita ada apanya…

(astaqauliyah_2puluh3juli2ribu5, spesial ditulis untuk DewiMuDiJiwa)

h1

Libidofilia

Mei 9, 2006

Beragam interaksi dalam rutinitas kita seringkali menyisakan residu-residu seksualitas yang perlu “dikanalisasi” untuk tetap mempertahankan “homeostatis libidonik”. Kemampuan diri untuk mengelola setiap gejolak seksualitas agar lebih positif, merupakan modal yang sangat baik untuk tetap dapat mempertahankan eksistensi. Dalam batasan ini, “kemerdekaan seksualitas” (freedom of sexuality), menjadi syarat penting dibangun secara arif dan bijaksana oleh setiap orang.

Menyebut proses kegagalan pembekuan darah sebagai hemofilia sungguh berbeda dengan menjelaskan tentang libidofilia. Libidofilia dapat dimaknai sebagai fenomena “kegagalan” dalam proses pengelolaan libido –hasrat seksualitas– seseorang. Perlu dipahami, seksualitas bukan sebatas membincangkan “persenggamaan” antar lawan jenis saja. Seksualitas sesungguhnya sangat luas maknanya.

Dalam perbincangan libidofilia, kegagalan yang dimaksudkan bisa jadi diwujudkan ke dalam ekspresi libidonik yang dilakukan secara tidak benar atau tidak lazim dilakukan banyak orang. Boleh jadi pula, libidofilia merupakan gejolak seksualitas yang telah melampaui batas-batas kapasitas lahiriah dan tidak lagi terikat oleh norma pergaulan yang ada. Fenomena ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, terutama lingkungan eksternal, anutan pola budaya dan prinsip hidup yang dipegangi.

Dalam kenyataannya, tidak sedikit dari kita secara tidak sadar tengah menderita libidofilia atau gejala-gejala yang sedang menunjuk ke arah libidofilia. Secara klinis, tidak tertutup kemungkinan stage penyakit ini hanya sampai pada level pseudo-libidofilia, aktifitas libidofilia yang masih belum matang benar, atau dalam bahasa keseharian : libidofilia setengah-setengah. Patut dicurigai, kekalutan dan sejumlah kegamangan yang dialami oleh manusia dalam hidupnya, merupakan tanda dini resiko pseudo-libidofilia yang jika tidak segera diantisipasi dapat bermanifestasi serius menjadi libidofilia.

Ekspresi kegagalan dalam pengelolaan hasrat seksualitas, libidofilia, dapat saja termanifestasikan dalam banyak bentuk. Manifestasi klinis lbidofilia bisa berupa penurunan nafsu makan, gairah hidup dan konsentrasi kerja yang hilang dan sejumlah representasi “kegamangan” lainnya. Tetapi yang paling utama dalam patogenesis lbidofilia adalah ekspresi yang “berlebihan” terhadap lawan jenis yang dijumpai atau dikenalinya, dalam banyak model dan kualitas. Ekspresi berlebih, dimana-mana, selalu dimaknai tidak baik.

Untuk mereka yang dalam rutinitasnya kerap kali bersinggungan dengan banyak lawan jenis, kehilangan konsentrasi kerja dan semangat hidup secara tiba-tiba tanpa disertai oleh penyebab fisik atau kausa materiil lainnya, patut dicurigai sebagai gejala patognomonik adanya libidofilia pro evaluasi. Akibat proses seperti inilah, mengapa libidofilia menjadi sulit dikenali stadium awalnya, karena cenderung tidak disadari mula perjangkitannya.

Secara sosio-antropologis, libidofilia mesti dipandang sebagai kelaziman yang belum perlu dipertentangkan saat ini, karena maqom seksualitas kita – dan sebagian yang lain – sesungguhnya masih berkutat pada level libidofilic.

Mengantisipasi trend lbidofilia membutuhkan “kesadaran seksualitas” (sexuality concicousness) yang mapan. Tradisi kultural yang bias gender ternyata ikut memberi kontribusi berarti bagi berkembangnya realitas libidofilic di kalangan banyak orang. Salah satu bentuk kesadaran seksualitas adalah dengan menganggap bahwa antar laki-laki dan perempuan, sesungguhnya secara fitrawi tidaklah berbeda, meskipun dalam realitas materiilnya –termasuk seksualitas– bisa berbeda mencolok.

Pada gilirannya harus dipahami, bahwa tanpa perempuan, laki-laki akan menemui “kehampaan eksistensial”, bahkan tidak layak disebut “laki-laki”. Begitu pun sebaliknya. Hubungan keduanya dalam tradisi seksualitas adalah relasi yang saling “memerdekakan”, dalam bahasa lain sebagai “keberterimaan tanpa syarat”. Kesadaran seksualitas seperti ini memungkinkan kita, dalam keseharian, tidak semata memandang lawan jenis seksual sebagai “pelengkap” saja yang karenanya dapat “dikelola” semau hati, tetapi lebih pada upaya menempatkannya sebagai “penghidup”, dan karena merekalah, dari perspektif kita, hidup bisa benar-benar “lebih hidup”.

Tanpa kesadaran seksualitas, libidofilia akan selalu ada sebagai bentuk kegagalan pengelolaan libido seksual, sekaligus sebagai wujud kebekuan “komunikasi seksualitas” (sexuality communication).[]